Harapan itu terlihat dari cara mereka duduk dengan penuh perhatian, menuliskan nama dan impian mereka di selembar Curriculum Vitae. Pada Rabu, 11 Februari 2026, Toploker.com bersama Universitas STEKOM melaksanakan kegiatan pembuatan CV sekaligus pemilihan Duta Kebekerjaan bagi siswa SLB Negeri Tegal. Bagi sebagian siswa, ini adalah pertama kalinya mereka membayangkan diri berada di dunia kerja profesional.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis. Ia menjadi ruang tumbuh tempat siswa belajar mengenali dirinya sendiri. Melalui pendampingan yang sabar dan komunikatif, para siswa dibimbing menyusun data diri, menuliskan keterampilan yang mereka miliki, serta menggali potensi yang mungkin selama ini belum mereka sadari. Setiap kalimat yang tertulis dalam CV menjadi simbol keberanian untuk melangkah lebih jauh.
Tim pendamping memastikan proses berlangsung dengan suasana hangat dan penuh penghargaan. Tidak ada batasan yang menjadi penghalang, yang ada hanyalah dorongan agar setiap siswa percaya bahwa mereka memiliki nilai dan kemampuan untuk berkembang. Di ruangan itu, rasa percaya diri tumbuh perlahan namun pasti.

Selain pembuatan CV, kegiatan ini juga menghadirkan pemilihan Duta Kebekerjaan. Program ini bertujuan memilih siswa yang menunjukkan kesiapan mental, motivasi tinggi, serta kemauan belajar yang kuat. Namun lebih dari sekadar penilaian, proses ini menjadi momen refleksi bahwa setiap siswa memiliki potensi untuk menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya.

Duta Kebekerjaan yang terpilih diharapkan menjadi simbol semangat dan teladan bagi teman-temannya. Kehadiran mereka bukan hanya mewakili diri sendiri, tetapi juga membawa pesan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari perjuangan menuju kemandirian.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Toploker.com dan Universitas STEKOM menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar konsep, melainkan aksi nyata yang menyentuh kehidupan. Setiap CV yang selesai disusun, setiap senyum yang muncul setelah sesi pendampingan, adalah langkah kecil menuju masa depan yang lebih mandiri dan bermartabat.
Karena pada akhirnya, membangun dunia kerja yang inklusif bukan hanya tentang membuka peluang—tetapi tentang menumbuhkan keyakinan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, berhak memiliki mimpi dan kesempatan yang sama untuk mewujudkannya.